Mengapa Sulawesi Keepers?​

Danau dan sungai di Sulawesi, sebuah pulau tropis Indonesia, terkenal dengan keanekaragaman udang, siput, kepiting, dan ikan. Tetapi habitat air tawar yang unik ini terancam oleh penyebaran spesies eksotik yang terjadi secara terus menerus, dan kami khawatir beberapa invertebrata kecil mungkin telah punah.

Dapatkah Anda bayangkanbahwa hewan-hewan yang sangat memukau ini hilang dari planet kita? Ini saatnya untuk bertindak, segera.

Misi kami​
Kami menghubungkan aquarist, ilmuwan, lembaga konservasi, dan komunitas lokal dalam upaya mencegah kepunahan.
Visi kami
Keanekaragaman fauna air tawar asli dihargai oleh masyarakat lokal yang terus memanfaatkannya secara berkelanjutan.

Kami mengakui hak mereka untuk menggunakan sumber daya alam.

Aquarist dan kebun binatang bertindak sebagai pemelihara yang bertanggung jawab dari spesies yang terancam punah.

Populasi eksitu (penangkaran) dikelola untuk menjamin kelangsungan hidup spesies.

Mitra kami

Mitra utama kami adalah Kebun Binatang Ostrava di Republik Ceko:

Kebun Binatang Ostrava telah mempunyai banyak capaian besar dalam pengembangbiakan spesies langka dan sulit dikembangbiakkan, dan juga telah memberikan perhatian besar dalam mendukung proyek konservasi insitu di seluruh dunia. Beberapa di antaranya berlangsung di Indonesia, dan pengalaman langsung dari rekan-rekan kami akan sangat berguna untuk misi ini.

Museum für Naturkunde – Leibniz Institute untuk Ilmu Evolusi dan Keanekaragaman Hayati dari Jerman adalah museum penelitian yang sangat baik dan terintegrasi pada Asosiasi Leibniz. Kegiatannya mencakup dan erat kaitannya dengan bidang penelitian berbasis koleksi, pengembangan koleksi, dan keterlibatan publik dengan sains. Misi kami: Kami mempelajari kehidupan dan Planet Bumi, memelihara dialog dengan masyarakat..

Leibniz Institute untuk Analisis Perubahan Keanekaragaman Hayati (LIB) dari Jerman didedikasikan untuk penelitian keanekaragaman hayati dan bagaimana perubahannya, temuan yang memiliki relevansi yang mencerahkan bagi masyarakat secara keseluruhan. Agar lebih memahami tentang kepunahan massal flora dan fauna saat ini, para ilmuan mencari korelasi dan penyebabnya, seringkali hal itu terjadi karena perubahan yang dilakukan oleh manusia. Tujuannya adalah untuk mencari solusi bagi konservasi ekosistem dan spesies dalam rangka melestarikan dasar kehidupan seperti yang kita kenal saat ini.

Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA) yang beroperasi di Jawa, Indonesia didirikan pada tahun 2017 oleh Taman Safari Indonesia, Yayasan KASI, ZGAP dan Vogelpark Marlow. Secara eksklusif PCBA berfokus pada pengembangbiakan konservasi spesies Indonesia yang terancam. Fasilitas ini tidak terbuka untuk umum agar kegiatan kegiatan pengembangbiakan dapar berjalan tanpa gangguan. Dalam waktu dekat, PCBA akan terlibat dalam konservasi eksitu spesies endemik air tawar yang terancam pada habitat uniknya di Sulawesi. Dua ruangan dengan total kapasitas 130 akuarium akan tersedia untuk spesies endemik.

Arbeitskreis Wirbellose in Binnengewässern e.V. (AKWB, Kelompok Kerja untuk Invertebrata di Perairan Daratan) adalah asosiasi yang memiliki tujuan untuk mempromosikan kepedulian dalam perawatan dan pengembangbiakan invertebrata di perairan daratan, dan untuk meningkatkan, serta menyebarkan pengetahuan tentang hewan-hewan ini secara nasional dan internasional dengan melibatkan pihak-pihak lain yang tertarik.

Shoal didirikan pada tahun 2019 untuk mengarahkan perhatian yang sangat dibutuhkan terhadap konservasi spesies air tawar. Misi mereka adalah menghentikan kepunahan dan memulihkan populasi spesies air tawar paling terancam di seluruh dunia. Menyelamatkan Danau Purba Sulawesi adalah salah satu program konservasi pertama organisasi tersebut, dan telah membantu menghilangkan ribuan ikan invasif dari Danau Mahalona.

Sulawesi Endemic Aquatic adalah sebuah kelompok dari penggemar lokal. Kelompok mengumpulkan dan berbagi informasi tentang ikan, udang, siput, kepiting, tumbuhan, dan makhluk hidup lainnya di dalam atau di sekitar biotop air tawar di Sulawesi.

BERGABUNG DENGAN KAMI

Kami mengagumi mereka di akuarium. Kami melakukan yang terbaik untuk menjaga mereka di habitat aslinya.

Tim kami​

Mgr. Markéta Rejlková (*1979)

Aquarist dan kurator ikan, reptil, amfibi, dan invertebrata di Kebun Binatang Ostrava, Republik Ceko. Dia belajar konservasi lingkungan, tetapi kemudian bekerja selama beberapa tahun sebagai konsultan dan pengembang IT. Namun, ia mencurahkan sebagian besar waktu luangnya untuk hobi akuarium, hingga tahun 2016 ia memutuskan untuk kembali ke konservasi alam dan menjadi aquarist tetap.

Sejak 2006, ia adalah pemimpin redaksi majalah Akvárium dan sebagai penulis lebih dari ratusan artikel. Dia adalah anggota kelompok IUCN SSC Spesialis Ikan Air Tawar dan koordinator program eksitu Asosiasi Kebun Binatang dan Akuarium Eropa untuk ikan poeciliid. Dia menjalankan program pengembangbiakan konservasi internasional untuk ikan langka dari genus Xiphophorus, yang berhasil menghubungkan aquarists dan kebun binatang. Dia sangat percaya pada keterampilan yang hebat dan antusiasme dari aquarists, serta makna yang lebih dalam dari hobi ini.

Markéta tertarik pada berbagai famili ikan, namun dia bahkan lebih terpesona dengan siput! Membiakkan Tylomelania sejak tahun 2008, tak heran jika ia tak ingin keberadaan mereka punah, lalu mendirikan Sulawesi Keepers.


doc. Ing. Jiří Patoka, Ph.D., DiS. (*1978)

Associate Professor pada Departemen Zoologi dan Perikanan di Czech University of Life Sciences Prague. Dia mengampu mata kuliah Budidaya Ikan Hias dan Produksi Budidaya Ikan Hias. Minat utamanya pada pengembangbiakan, biologi, etologi, dan taksonomi krustasea air tawar. Dia secara resmi telah mendeskripsikan beberapa spesies udang karang. Secara umum bidang keahliannya juga tentang invasi biologis dan secara khusus pada spesies invasif yang terkait dengan perdagangan hewan peliharaan secara internasional.

Selain itu, dia juga aktif mempopulerkan hasil risetnya dan telah menerbitkan empat panduan penjaga (four keeper guides), dan metodologi pemeliharaan udang karang di akuarium, dimana dia bertindak sebagai penulis utama, dia juga menciptakan nomenklatur Ceko untuk infraorder Astacida. Hingga saat ini, dia telah menerbitkan lebih dari 70 makalah ilmiah dan artikel khusus.

Pada tahun 2015 kerjasama yang bermanfaat dengan delapan universitas di Indonesia. Pada tahun 2017, dia memimpin ekspedisi astakologi Ceko ke New Guinea di mana ia menemukan dan kemudian mendeskripsikan troglobitic crayfish pertama di belahan bumi selatan.

Dia terlibat dalam konservasi fauna endemik indonesia yang kaya dan mengagumkan, ia juga merupakan anggota dari Czech Limnological Society, Crustacean Society, Indonesian Crayfish Research Group, dan Sulawesi Keepers.


Ing. Jiří Libus (*1981)

Aquarist, pramuka dan Staf pada Mendel University di Brno, Republik Ceko. Spesialisasi akuariumnya terutama dalam memelihara dan mengembangbiakkan udang. Dia adalah orang pertama di dunia yang berhasil melakukan dan mendeskripsikan pengembangbiakan Atyopsis moluccensis di penangkaran. Melalui artikelnya tentang budidaya udang, ia berkontribusi pada beberapa jurnal profesional di banyak negara (Republik Ceko, Prancis, Jerman, dan Taiwan). Dia adalah anggota dewan redaksi majalah Akvárium. Melalui tulisan-tulisan dan foto-fotonya, ia berkontribusi pada buku-buku tentang pemeliharaan udang di Republik Ceko dan Prancis. Berkat pengalamannya dalam pengembangbiakan dan koneksinya dengan ahli taksonomi dari negara lain, ia sering mengidentifikasi udang yang kurang dikenal yang diimpor ke Eropa.

Beberapa tahun terakhir, ia juga secara intensif menekuni hobi akuarium laut. Bersama istrinya, ia mengelola fasilitas penangkaran kecil untuk udang air tawar dan hewan air berukuran kecil lainnya. Dia adalah anggota komite Brno Aquaclub dan anggota pendiri Sulawesi Keepers.


Surya Gentha Akmal, M.Sc. (*1990)

Gentha adalah salah satu peneliti muda di bidang spesies asing invasif air tawar, pengelolaan pesisir dan perikanan, yang telah terlibat dalam beberapa kegiatan yang berkaitan dengan kebijakan nasional di bidang pengelolaan dan tata kelola perikanan di Indonesia. Dia juga telah berkontribusi dalam perbaikan dan pengembangan beberapa kebijakan terkait perikanan berkelanjutan di Indonesia. Gentha memiliki minat dan fokus pada spesies asing invasif air tawar dan dampaknya terhadap biota asli di Indonesia; biologi perikanan; pengelolaan sumber daya pesisir dan laut; dan manajemen bencana.

Saat ini Gentha sedang menempuh gelar PhD dalam bidang Zoologi Terapan di Department of Zoology and Fisheries, Faculty of Agrobiology, Food and Natural Resources, Czech University of Life Sciences Prague, Republik Ceko. Bersama pembimbingnya, doc. Ing Jiří Patoka, Ph.D., DiS., dia telah menghasilkan beberapa publikasi ilmiah di jurnal bereputasi. Di Indonesia ia juga aktif menulis beberapa buku bersama kolega-koleganya, antara lain buku Biologi Perikanan dan Manajemen, Panduan Praktikum Biologi Perikanan, Bentang Laut Sunda Kecil dan Bismarck Solomon, dan Kumpulan Pemikiran Pelajar Indonesia Dunia (Seri 11: Maritim). Ia juga menjadi kontributor pada kolom opini di beberapa surat kabar di Indonesia.

Selain tanggung jawabnya sebagai mahasiswa PhD, ia bertugas sebagai fish keeper di laboratorium yang dipimpin oleh doc. Ing Jiří Patoka, Ph.D., DiS., di Department of Zoology and Fisheries. Gentha sangat menyukai kegiatannya, karena sudah menjadi cita-citanya sejak kecil untuk menjadi seorang ilmuwan. Ia berafiliasi sebagai research fellow di CCRMS, IPB University, dan juga sebagai anggota Indonesian Crayfish Research Group, dan Sulawesi Keepers.


Ing. Mgr. Kateřina Schrimpelová, Ph.D. (*1989)

Konsultan lepas di bidang kimia dan teknologi air. Seorang mantan aquarist yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk perairan. Lulusan teknik sipil dengan fokus pada pengelolaan air, dengan spesialisasi pada kimia air. Dalam studi doktoralnya, ia membahas ekotoksikologi dan pengaruh pertanian terhadap aliran air permukaan dan kualitas air di kawasan karst. Pada saat yang sama, ia juga mempelajari geologi terapan dengan fokus pada hidrogeologi dan geokimia, khususnya di bidang perairan tambang. Dia memiliki pengalaman profesional dalam merancang teknologi pemurnian dan pengolahan air.

Selama lebih kurang 10 tahun, ketika dia secara aktif terlibat dalam aquaristik, dia memiliki ketertarikan utama pada fungsi sistem-sistem perairan yang kecil ini – hubungan antara tanaman, hewan, dan mikroorganisme. Akuariumnya biasanya tidak berteknologi tinggi, penuh dengan tanaman dan hanya diisi oleh sedikit ikan.


Anda

Anggota tim kami yang terhormat.

Ahli kami​

Hans-Georg Evers (*1964)

Hans tinggal di Hamburg, Jerman dan telah menjadi aquarist sejak awal. Minat utamanya adalah ikan berkumis, terutama Corydoradinae dan Loricariidae, diikuti oleh tetra, rainbowfish, dan setiap ikan dan udang air tawar lainnya yang mungkin ada di pikiran Anda. Dia adalah seorang petualang yang sibuk, dapat berbicara beberapa bahasa dan telah mengunjungi banyak negara tropis di seluruh dunia, terutama Amerika Selatan dan Asia.

Dia telah menerbitkan 13 buku, ratusan artikel dan telah ikut menulis beberapa makalah akademis. Ikan padi Sulawesi Oryzias eversi dan ikan berkumis Amerika Selatan Corydoras eversi dinamai menurut namanya. Dari tahun 2005 hingga 2018 ia adalah pemimpin redaksi majalah akuarium internasional AMAZONAS dan membangun jaringan global dalam perdagangan ikan hias.

Hans beberapa kali melakukan perjalanan ke Sulawesi, “pulau impian” nya. Dalam berbagai perjalanan ia dapat menemukan sebagian besar spesies ikan dan invertebrata asli Sulawesi, beberapa di antaranya kemudian dijelaskan secara ilmiah menggunakan bahan yang dikumpulkan ini (Oryzias eversi, O. wolasi, Nomorhamphus rex, Mugilogobius hitam dan lain-lain).


Werner Klotz (*1969)

Aquarist dan peneliti independen pada bidang taksonomi dan ekologi krustasea. Staff di Medical University of Innsbruck. Penelitian taksonomi udang sejak 2002 dengan fokus khusus pada spesies landlocked atyid dari China dan Sulawesi, Indonesia. Sejak tahun 2011 anggota tim IUCN untuk penilaian udang caridean air tawar. Kerjasama dengan Humboldt University of Berlin (Museum für Naturkunde) 2007 hingga sekarang, Griffith University Brisbane 2009-2010, Museum of Natural History Paris 2010 hingga 2013, National Museum of Marine Biology & Aquarium, Pingtung, Taiwan (2013).

Ketertarikan khusus untuk menjelajahi habitat udang air tawar untuk mengetahui kondisi udang yang dipelihara di akuarium hobi. Kunjungan lapangan ke Panama (2006), Hong Kong dan Cina (2009, 2010, 2011, 2012), Spanyol (2012), Yunani (2016, 2018), Singapura (2011), Taiwan (2013), Jepang (2016), Sri Lanka (2017) dan Sulawesi (2017, 2019).

Saat ini, fokus perhatiannya adalah taksonomi dan biogeografi landlocked atyids di sungai-sungai dan sistem Malili di Pulau Sulawesi, serta pada revisi terhadap dua kelompok besar spesies genus Caridina dari Asia Tenggara dan India Utara.


Dr. Thomas von Rintelen (* 1970)

Thomas adalah ahli zoologi dan biologi evolusioner di Museum für Naturkunde, Berlin. Disana dia menjabat sebagai kepala ilmiah koleksi moluska. Minat penelitiannya mencakup taksonomi dan sistematika siput dan udang air tawar hingga genomik spesiasi.

Tempat bermain favoritnya adalah Asia Tenggara, dimana Thomas memulai karir ilmiahnya pada tahun 1998 dengan meneliti kawanan spesies siput pachychilid pada danau purba di Sulawesi, dan dia masih terus melakukannya hingga saat ini. Selama bertahun-tahun ia berkembang di luar fokus danau purba, menambahkan proyek tentang filo dan biogeografi Sulawesi dan seluruh kepulauan Indo-Australia dalam beberapa taksa invertebrata air tawar dengan sesekali meneliti pada jalur lain seperti burung cendrawasih.

Dalam beberapa tahun terakhir, Thomas semakin khawatir dengan perubahan mengejutkan yang terjadi pada habitat alami di wilayah tersebut, terutama pada beberapa danau purba di Sulawesi. Dia ingin berkontribusi pada pelestarian fauna unik yang mereka miliki dengan membuat hasil penelitian yang tersedia untuk konservasi, misalnya, dengan penilaian IUCN (2020) baru-baru ini untuk semua spesies moluska endemik di Danau Malili.


PD Dr. Fabian Herder (*1975)

Fabian memiliki minat yang mendalam pada keragaman, evolusi, dan ekologi ikan. Dia menyimpan ikan dari masih usia kanak-kanak hingga mencapai gelar akademis, yang sangat jelas menantang toleransi dari orang tuanya dan terus mengikuti hasratnya terhadap organisme dengan mempelajari biologi. Sebagai kurator di Museum Koenig di Bonn, Jerman (LIB), dia bertanggung jawab pada koleksi referensi ikan dan melakukan koleksi lapangan berbasis riset dengan grupnya.

Dia dan timnya telah aktif di Sulawesi sejak 2002, dengan fokus pada latar belakang evolusi kawanan spesies ikan yang endemik di danau purba di pulau itu. Baru-baru ini, telah dilengkapi dengan penelitian tentang keanekaragaman ikan yang menghuni ekosistem sungai di Sulawesi. Semua kegiatan ini didasarkan pada kerjasama yang erat dengan mitra Indonesia dan sedapat mungkin melibatkan mahasiswa.

Kegemaran lama Fabian untuk mempelajari ikan dari sudut pandang aquarist juga menjadi motivasinya untuk merencanakan dan mengkurasi pameran permanen Museum Koenig dengan tema “air – kehidupan dalam arus”, sebuah latar yang menyajikan kehidupan aliran ekosistem tropis dan beriklim sedang kepada publik, pada sekitar 16.000 liter air yang mengalir – termasuk ikan di Sulawesi tentunya…


Jan Möhring (*1994)

Calon mahasiswa PhD di Zoological Research Museum Alexander Koenig di Bonn, Jerman, pekerjaan utama pada ikan patin Sulawesi, terutama dari Danau Poso, yang merupakan hotspot keanekaragaman ikan patin. Secara umum, ia memiliki minat besar dalam evolusi, ekologi, dan taksonomi ikan di bagian timur Garis Wallacea, khususnya Sulawesi, dan juga mengerjakan proyek sampingan yang berfokus pada kelompok ikan lain dari pulau tersebut, contohnya, viviparous halfbeaks. Setelah tesis masternya, ia menghabiskan tiga bulan melakukan penelitian lapangan di Sulawesi, dua di antaranya di Danau Poso, mempelajari endemik lokal dan mengenal fauna ikan.

Sebagai seorang aquarist sejak usia dini, ia juga menyadari manfaat yang dapat dibawa oleh antusiasme para penghobi untuk upaya konservasi. Dari sudut pandangnya, program in situ dan ex situ dapat sangat difasilitasi melalui keterlibatan aquarist yang bersedia membantu membiakkan spesies yang terancam punah atau memberikan informasi berharga tentang ekologi, habitat, atau ancaman mereka.


Andreas Wagnitz (*1970)

Kecintaannya pada makhluk air dimulai pada usia 10 tahun. Dia adalah seorang aquarist, fotografer hewan hobi dan penulis artikel aquaristik. Fokus aquaristiknya adalah di Asia dan Oseania, terutama ikan gobi, ikan pelangi, sailfin silversides, ricefish, halfbeaks dan archerfish yang dekat di hatinya. Dia memberikan kuliah tentang pemeliharaan, pembiakan dan perolehan makanan ikan favoritnya dan menginspirasi dengan foto-foto indah yang diambil dengan penuh semangat.

Dia melakukan beberapa ekspedisi ke Indonesia, menangkap sendiri banyak hewan-hewannya di Sulawesi dan Papua dan menyimpannya di fasilitasnya. Ikan-ikan dari Sulawesi dikembangbiakkan dan didistribusikan ke kebun binatang, museum, atau aquarists (misalnya Oryzias asinua, Oryzias nigrimas, Nomorhamphus spec. "Lembo", Nomorhamphus sagittarius dan banyak masih banyak lagi).


José María Requena (*1989)

Berprofesi sebagai Ahli anestesi, namun sangat mencintai hobi akuarium. Dia mulai memelihara udang pada 2013. Dari 2013 hingga 2017, dia adalah editor Crustanews, majalah udang gratis dalam bahasa Spanyol, yang mencoba mengajarkan dasar-dasar dalam hobi. Bekerjasama dengan orang-orang luar biasa dan itu adalah pengalaman yang menakjubkan. José sangat suka menulis artikel dan merancang/menggambar materi pelatihan. Dia adalah juri kontes internasional di Paris (2017) dan Dortmund (2018, 2019).

Pada tahun 2019, ia menerbitkan buku berbahasa Inggris "Shrimp, aquarium jewels" bersama Werner Klotz dan Neli Martín, tersedia juga dalam bahasa Spanyol dengan judul "Gambas, joyas de acuario" dan dalam bahasa Jerman dengan judul "Garnelen im Aquarium". Sebagian besar spesies udang yang telah ada atau tersedia untuk aquarist dijelaskan dalam buku ini; tujuannya adalah untuk mengajarkan cara memelihara dan membiakkan mereka, serta beberapa konsep dasar tentang cara mengidentifikasi mereka dengan petunjuk taksonomi sederhana.

José fokus pada Neocaridina, Caridina dan Paracaridina, yang kebanyakan merupakan populasi liar. Saat ini, ia juga tertarik pada Macrobrachium dan spesies Palaemonidae lainnya, ia terpesona oleh perilaku sosial mereka. Dia juga memelihara beberapa varietas yang dibiakkan secara selektif – beberapa warna dan pola yang sangat menarik. Dia juga memiliki pengalaman yang signifikan dengan udang Sulawesi, yaitu pemuliaan spesies dari Danau Poso dan Matano selama bertahun-tahun, sesuatu yang José ingin mulai lagi dengan tangki baru.

Fotografer​

Kami sangat berterima kasih kepada kontributor yang telah memberikan foto mereka untuk proyek kami:

Aspar, Hans Evers, Werner Klotz, Markéta Rejlková, Demin Wong dari Madshrimp

Orang lain yang membantu kami…​

… dan pantas terima kasih kami:

Adyah Ningtyas dari Prigen Conservation Breeding Ark telah mengoreksi

Ulli Bauer, penerjemah profesional, untuk terjemahan bahasa Jerman gratis

BERGABUNGLAH DENGAN KAMI

Kami membutuhkan bantuan Anda.

Kami transparan

Sulawesi Keepers, z. s. adalah organisasi nirlaba yang terdaftar di Republik Ceko dengan nomor 11744065. Dana kami dapat digunakan secara eksklusif untuk memenuhi tujuan organisasi, yang terdaftar melalui pengadilan:

Melindungi alam dan fauna air asli di Indonesia dan berkontribusi pada pengetahuan mereka.

Rekening bank kami transparan dan dapat diakses di sini:

https://ib.fio.cz/ib/transparent?a=2202041053